pendahuluan tentang peran zakat dalam mengentaskan kemiskinan



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
persoalan kemiskinan merupakan permasalahan yan sangat kausal yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini,apalagi saat ini kondisi perekonomian global sedang mengalami krisis pangan dan krisis energy. Kemiskinan merupakan problematika yang melanda umat. Rendahnya taraf perekonomian nyatanya juga dialami oleh masyarakat muslim pada masa awal. Persoalan ini pun menjadi hal yang sangat serius. Islam memerangi kemiskinan, tidaknya hanya sebagai akibat, tetapi memberantas pula faktor penyebab kemiskinan, yaitu kebodohan,pola pikir, dan semangat hidup yang salah.
Dalam tataan praktis, upaya pemberantasan kemiskinan muncul dari berbagai kalangan sepanjang sejarah, usaha itu datang dari berbagi elemen masyarakat .
Persoalan kemiskinan ini juga merupakan fenomena ekonomi yang selalu mengiringi proses pembangunan. Berbagai perdebatan tentang penyebab kemiskinan, ukuran dan solusi yang mungkin diterapkan untuk mensejahterakan masyarakat merupakan bentuk dari kekhawatiran meningkatnya jumlah penduduk miskin yang akan berakibat kepada besarnya dampak negatif dalam masyarakat.
Para ahli menyimpulkan bahwa ada tiga penyebab kemiskinan yaitu karena keterbatasan sumber daya yang di miliki, kedua adalah akibat rendahnya kualitas sumber daya manusia , ketiga adalah kurangnya akses modal yang dapat menyebabkan kurang berkembangnya usaha yang dijalankan dan rendahnya tingkat produksi baik barang maupun jasa.
Ketiga penyebab kemiskinan tersebut merupakan tugas semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat dalam upaya mengentaskan kemiskinan.
Angka kemiskinan yang tinggi di Indonesia menjadi bahan evaluasi bagi bangsa ini untuk mencari instrument yan tepat dalam mempercepat penurunan kemiskinan tersebut. Berbagai kebijakan baik sektoral, moneter dan fiscal maupun kebijakan lainnya ternyata belum efektif untuk menurunkan angka kemiskinan yang signifikan bagi bangsa ini. Persoalan kemiskinan senantiasa menarik untuk dikaji karena merupakan masalah serius yang menyangkut dimensi kemanusiaan. Kemiskinan tetap merupakan masalah yang tak bisa dianggap mudah untuk di carikan solusinya karena sudah ada sejak lama, dan menjadi kenyatan hidup ditengah masyrakat. Dengan kata lain, kemiskinan merupakan kenyataan dalam kehidupan manusia.
Salah satu cara menanggulangi kemiskinan adalah dukungan orang yang mampu untuk mengeluarkan harta kekayaan mereka berupa dana zakat kepada mereka ayng kekurangan. Zakat yang terkumpul dari dana masyarakat muslim melalui Baitul Mal dapat menjadikan zakat sebagai salah satu instrument yang secara khusus dapat mengatasi masalah kemiskinan dan dapat mensejahterakan masyarakat dengan ekonomi lemah. Karena apabila ditinjau dari pola pendistribusiannya, zakat tersebut menggambarkan adanya keseimbangan untuk tujuan jangka pendek dan juga jangka panjang. Tujuan jangka pendeknya, maka zakat disalurkan untuk kebutuhan yang bersifat komsumtif yaitu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar rumah tangga, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. Sedangkan untuk tujuan jangka panjangnya, penyaluran zakat dilakukan dalam bentuk pemberian modal usaha produktif sehingga diharapkan hasilnya dapat diterima secara terus menerus dan dapat memberikan manfaat secara perekonomian serta dapat meningkatkan pendapatan. Dengan demikian, diharapkan masyarakat miskin yang dahulunya menjadi penerima zakat (mustahik) menjadi pemberi zakat (muzakki).
Zakat yan diberikan kepada mustahik akan berperan sebagai pendukung peningkatan ekonomi mereka apabila disalurkan pada kegiatan produktif.
Tinjauan  pustaka
Zakat
Dari segi bahasa Manzur (1990:358) perkataan zakat merupakan kata dasar dari zakā yang bermakna tumbuh nama, berdasarkan kepada pengertian inilah kemudian digunakan untuk pengertian yang luas seperti bersih, baik, terpuji dan berkat.
Qudāmah (1968:427) Para fuqaha memberi definisi yang beragam, namun secara umumnya arti zakat merupakan pengeluaran harta dalam kadar tertentu dari harta yang tertentu untuk dimanfaatkan bagi kalangan yang berhak menerimanya.
Qaradāwĩ (1993:519) menyebutkan juga dengan kasb al-„amal wa al-mihn al-hurrah, yaitu zakat yang bersumber dari pendapatan tidak terikat. Baik dikerjakan untuk pribadi atau dikerjakan untuk pihak lain. Konsep zakat pendapatan berdasarkan kepada al-mal al-mustafadah.Dapat di katakan setiap harta yang di perolehi oleh seseorang baik melalui usaha atau jasa profesionalisme maka harta tersebut dikenakan zakat atasnya.
Zakat Produktif
Tujuan zakat sebenarnya tidak sekedar menyantuni orang miskin secara konsumtif, tetapi mempunyai tujuan yang lebih permanen yaitu mempersempit gap jurang kemiskinan yang berada pada tatanan masyarakat, karena itu pengembangan zakat produktif perlu didukung untuk pemberdayaan masyarakat.
Menurut Qadir (1998) Zakat produktif yang diberikan kepada mustahik sebagai modal untuk menjalankan suatu kegiatan ekonomi dalam bentuk usaha, untuk mengembangkan tingkat ekonomi dan potensi produktifitas mustahik.
Dengan kata lain dapat kita simpulkan zakat produktif adalah zakat yang didistribusikan dalam bentuk modal atau peralatan kerja untuk menjalankan usaha. Dengan adanya bantuan zakat masyarakat bisa membuka usaha atau  menjalankan usaha yang sudah ada sehingga dapat bertambah pendapatan, dan mempunyai tabungan dari hasil usaha.
Kesejahteraan
Dalam Islam arti kemiskinan dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu perspektif materi (kebendaan) dan perspektif non materi (rohani). Dalam mendefinisikan kemiskinan kebendaan ada dua istilah yang dipakai. Pertama fakir dan miskin, bahwa yang disebut fakir ialah mereka yang tidak mempunyai harta atau pendapatan yang mencukupi untuk memenuhi keperluan hidupnya seperti makanan, tempat tinggal dan segala kebutuhan pokok lainnya.Sementara yang disebut miskin ialah orang yang mempunyai harta atau pendapatan yang layak dalam mencukupi kebutuhan keluarganya, tetapi tidak sepenuhnya terpenuhi, seperti yang diperlukan sepuluh tetapi yang ada cuma tujuh. (Al – Ghazali:1980).
Merujuk dari tesis Munardi (2004), menjelaskan bahwa kemiskinan jiwa merupakan miskin dunia akhirat, dimana di dunia orang tersebut tidak mendapatkan nikmat kesenangan dan kemewahan kebendaan dan di akhirat akan lebih parah lagi karena tidak dapat merasakan nikmatnya syurga. Selanjutnya dia menyebutkan bahwa, walaupun mereka orang kaya di dunia, tetapi mereka tidak punya iman, pasti dia akan menderita kekurangan yang tidak ada cukupnya, sibuk yang tiada lapangnya dan riasau yang tiada senangnya, sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa di akhirat kelak.
Pendapatan
Pendapatan merupakan hasil kerja dari suatu usaha yang telah dilakukan (Ningsih,2001:13). Selanjutnya pendapatan yang diperoleh oleh suatu badan usaha maupun perusahaan dari hasil penjualannya. Semantara itu,nilai penjualan ditentukan oleh jumlah unit yang terjual dan harga jual (Nour,2000:186)
Menurut Madura (2001:126) Menyatakan bahwa “Pendapatan konsumen merupakan jumlah barang dan jasa yang dapat di beli oleh individu. Suatu pertumbuhan ekonomi tingkat tinggi mengakibatkan pendapatan lebih bagi konsumen. Apabila pendapatan konsumen naik, mereka mungkin akan meminta kuantitas lebih besar dari barang dan jasa tertentu yaitu, jadwal permintaan untuk berbagai barang dan jasa mungkin tergeser keluar sebagai reaksi pendapatan yang lebih tinggi.
Pendidikan
Menurut Surya Brata (2000:4) pendidikan adalah proses dimana si pendidik dengan sengaja dan penh tanggung jawab memberikan pengaruhnya kepada anak didik, demi kebahagiaan anak didik, proses ini terjadi dalam situasi yang menyangkut banyak sekali hal, seperti pergaulan antara pendidik dan anak didik, tujuan yang akan di capai, materi yang di berikan dalam proses itu, sarana yang di pakai, lingkungan yang menjadi ajang proses itu dan sebagainya.
Kesehatan
Frederic (2007) menyebutkan beberapa indikator kesehatan yang menjadi indek dalam mengukur pembangunan dalam sebuah Negara. Pertama jumlah prosentase angka kelahiran yang ditangani oleh tim medis. Kedua jumlah bayi yang mendapatkan suntikan imunisasi. Dan yang ketiga harapan hidup disaat lahir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

contoh makalah tentang dinamika konflik dalam organisasi lengkap

makalah tentang biaya relavan dalam pengambilan keputusan