isi makalah tentang konflik intra individu
KONFLIK INTRAINDIVIDU
Bentuk bentuk konflik intrindividu
1. Konflik
akibat frustasi
Frustasi terjadi saat dorongan yang
termotivasi terhalang sebelum orang mencapai tujuan yang diinginkan. gambar 12.4 mengilustrasikan apa yang terjadi. Rintangan dapat kelihatan
dari luar (lahiriah atau fisik) atau tersembunyi (batiniah, atau mental sosiopsikologis).
Model frustasi menjadi berguna bukan hanya dalam analisis perilaku secara umum,
tetapi juga aspek perilaku pada pekerjaan secara khusus. Pencuri properti
perusahaan dan kekerasan dalam pekerjaan mungkin merupakan bentuk hasil
agresivitas frustasi kerja. Misalnya, sebuah artikel ringkas mengenai kekerasan
di tempat kerja menyatakan bahwa belakangan ini lebih dari ribuan orang amerika
terbunuh saat bekerja. Meskipun mayoritas kematian bukan karena kecelakaan
kerja, namun pembunuhan masih dianggap sebagai penyebab kedua kematian bukan
karena ditempat kerja( selain kecelakaan lalu lintas). Pembunuhan juga
merupakan penyebab kematian perempuan ditempat kerja, bahkan katagori ini
adalah pembunuhan yang berkembang paling ceat di amerika serikat.
Kepedulian
dan penelitian mengenai agresi dan kekerasan ditempat kerja kian meningkat.
Meskipun insiden agresi tempat kerja merupakan reaksi terhadap frustasi
terhadap bukti penelitian bahwa perbedaan individu (misalnya, sifat marah, gaya
atribusi,afektivitas negatif, siakp balas dendam, kontrol dri, dan penjelasan
buday agresif sebelumnya) sangat mempengaruhi agresi tempat kerja. Bentuk
agresi mungkin tergantung pada persepsi keadialan organisasi (misalnya,
pertimbangan kejujuran). Terdapat studi terbaru yang menyatakan bahwa tingkat
kekerasan dalam komunitas tempat kerja memperdiksikam sejumlah agresi yang
dilaporkan ditempat kerja tersebut. Mengimplementasikan kebijakan pencegahan
kekerasan dan menyediakan pelatihan bagi penyelia dan karyawan mengenai kesadaran
pencengahan kekerasan tampaknya menurunkan tingkat kekerasan antarkaryawan.
Selain
agresi dan kekerasan, reaksi penarikan diri karena frustasi mungkin menjadi
penjelasan utama atas “masalah motivasu” karyawan. Mereka menjadi apatis
atau “pensiun dari pekerjaan” karena
frustasi, bukan karena tidak mempunyai motivasi. Banyak motif karyawan
terhalangi oleh pekerjaan yang tidak berkembang, tingkat spesialisasi kerja
yang tinggi, atau rintangan dari penyelia. Sama halnya dengan agresi, terdapat
bukti penelitian bahwa variabel kepribadian memengaruhi sikap dan jenis
perilaku menarik diri yang ditunjukkan karyawan. Reaksi fiksasi terhadap
frustasi digunakan untuk menjelaskan perilaku birokrasi yang tidak rasional.
(aturan menjadi bumerang bagi diri sendiri, dan karyawan yang frustasi secara
apatis menyesauikan diri dengan rintangan). Kompromi dapat membantu menjelaskan
perubahan karier (krwayan yang frustasi melewati rintangan) atau “kehidupan
diluar pekerjaan” (karyawan yang frustasi tidak dapat mencapai tujuan pada
pekerjaan, jadi mereka mencari kepuasan diluar pekerjaan). Reaksi terhadap
frustasi ini merugikan organisasi karena disfungsi yagn berhubungan dengan
agresi, penarikan diri, dan fiksasi. Dalam kasus kompromi, motivasi karyawan
muncul diluar organisasi. Meskipun sejauh ini pembahasan yang mengindikasikan
sifat disfungsi frustasi, hal negatif tersebut sebaiknya tidak diasumsikan
secara otomatis.
Dalam
beberapa kasus, frustasi mungkin menghasilkan dampak positif terhadap kinerja
individu dalam tujuan organisasi. Contohnya adalah karyawan atau manajer yang
mempunyai kompetensi dan prestasi yang tinggi dan atau yang mempunyai efikasi
diri yang tinggi dalam melakukan pekerjaan dengan baik. Orang dengan sifat
tersebut, jika mengahadapi frustasi pekerjaan, akan bereaksi dengan sifat
defensive, tetapi frustasi dapat meningkatkan kinerja. Orang mungkin mencoba
lebih keras untuk mengatasi rintangan atau mengimbangi, atau mencari arah atau
tujuan baru yang lebih sesuai dengan tujuan organisasi.
Sekali
lagi, perlu diingat bahwa mekanisme pertahanan tidak buruk bagi individu, mekanisme
tersebut memainkan peranan penting dalam proses penyesuaian fisikologis dan
menjadi tidak sehat hanya saat mekanisme tersebut menominasi kepribadian
individu. Orang yang berhasil mengatasi irustrasi dimasa lalu dengan belajar
mengatasi rintangan atau menetapkan tujuan pengganti, lebih toleran terhadap
frustasi dibanding orang yang tidka pernah mengalaminya sama sekali, atau
dibanding orang yang mengalami frustasi
yang berlebihan. Secara umum, tujuan utama manajemen sebaiknya adalah
menghilangkan rintangan ( khayalan, kenyataan, atau potensi) yang membuat
karyawan menjadi frustasi. Tujuan tersebut dicapai dengan usaha mendesain ulang
pekerjaan yang lebih sesuai dengan motivasi karyawan atau dengan keterampilan
kepemimpinan yang menyengkirkan berbagai rintangan yang membuat frustasi.
1.
Konflik tujuan
Sumber
konflik lainnya adalah tujuan yang mempunyai fitur positif dan negatif, atau
dua tujuan atau lebih yang saling bersaing. Motif frustasi terhalang sebelum
tujuan dicapai, sedangkan dalam konflik tujuan, dua motif tujuan atau lebih
saling menghalangi. Untuk kemudahan analisi, tiga jenis konflik tujuan berikut
ini dijelaskan secara umum :
1. Konflik
pendekatan, seseorang dimotivasi untuk mendekati dua tujuan positif atau lebih,
terutama tujuan ekslusif.
2. Konflik pendekatan-penghindaran, seseorang
dimotivasi untuk mendekati tujuan, pada saat bersama juga dimotivasi untuk
menghindarinya. Tujuan tunggal berisi karakteristik positif dan negatif bagi
individu.
3. Konflik
penghindaran-penghindaran, seseorang dimtivasi untuk menghindari dua tujuan
negatif atau lebih, terutama tujuan ekslusif.
Untuk
membedakan tingkatannya, setiap bentuk konflik tujuan muncul pada organisasi
modern, tetapi pendekatan-penghindaran adalah yang paling relevan dengan
analisis konflik.
Konflik pendekatan-penghindaran berasal dari tujuan
oraganisasi yang mempunyai asfek positif dan negatif bagi anggota organisasi.
Penelitian dasar fisikologi menyatakan bahwa aspek positif tujuan organisasi
lebih kuat dan lebih menonjol dalam jarak ruang dan waktu saripada aspek
negatif. Sebaliknya saat orang semakin dekat dengan tujuan, aspek negatif
muncul kembali dan individu mungkin ragu atau gagal untuk maju dimana
pendekatan sama dengan penghindaran. Misalnya, menajer yang terlibat dalam
perencanaan jangka panjang biasanya sangat yakin dengan tujuan (rencana
strategi) yang telah meeka kembangkan untuk masa mendatang. Tetapi, saat
semakin banyak kesempatan untuk mengsungsikan sumber daya dan
mengimplementasikan rencana, konsekuensi negatif sepertinya muncul lebih besar
daripada ada saat langkah perkembangan rencana. Menajer yang berada pada
situasi tersebut mungkin mencapai titik dimana pendekatan sama dengan
penghindaran. Hasilnya adalah terjadi konflik internal dan mengakibatkan
kebimbangan, reaksi fisik atau bahwkan depresi.
Konflik pendekatan penghindaran dan akibatnya adalah
hal yang biasa dirasakan pebuat keputusan dan orang yang bertanggungjawab dalam
organisasi yang dideskripsikan pada bagian pegantar. Seperti dibahas dalam
majalah fortune “bagi yang bertahan, revolusi akan terasa menakutkan, merasa
bersalah, menyakitkan, membebaskan, kehilangan orientasi, mengembirakan,
memberikan wewenang, frustasi, menyelesaikan, membingungkan, menantang.” Dengan kata lain, seperti diindikasi oleh
istilah tersebut, banyak menejer merasakan campur aduk atau reaksi pendekatan
penghindaran. Contoh aplikasi : mengatasi konflik tujuan memberikan beberapa
contoh nyata.
Contoh aplikasi
Mengatasi konflik tujuan
Bagaimana manajer dapat mengatasi konflik tujuan?
Salah satunya adalah dengan menyadari bahwa konflik ada dalam setiap organisasi
dan tidak dapat dihindari. Misalnya, banyak pakar manajemen berpendapat bahwa
untuk membawa perubahan, eksekutif puncak harus terdepan dalam menyatukan
individu dan menunjukkan bahwa mereka mendukung perubahan. Disis lain, pakar
manajemen juga menunjukkan bahwa perubahan harus mempunyai kader pemimpin ada
tingkat menegah dan rendah yang membawa bendera perubahan. Jadi, apa yang
dilakukan manajer adalah : berada didepan atau mendorong karyawan untuk
menerima tanggungjawab ini? Dua pendekatan tersebut tampaknya saling
bertentangan .
Atau, perhatikanlah konflik independen dengan
interdependen. Organisasi menuntu manajer untuk bertindak secara independen dan
memberi inisiatif personal dan tanggungjawab kepada unit. Akan tetapi, saat
menajer memulai tindakan yang meningkatkan aktifitas unit manajer pertama
sering dipanggil untuk mempertimbangkan dan didorong untuk “ menjadi anggotan
yang lebih kooperatif”.
Konflik lain adalah pertumbuhan pendapatan versus
pengendalian biaya. Jika manajer menghabiskan waktu mereka untuk mengembangkan
bisnis, maka mereka mengahadapi kritik
karena tidak mengendalikan biaya. Jika mereka fokus kepada pengendalian
pengeluaran, mereka ditanya mengapa mereka tidak meningkatkan pendapatan.
Apa yang dapat dilakukan manajer untuk mengatasi
konflik tersebut? Salah satunya adalah dengan menyadari bahwa konflik sering
menjadi dilema utama: pemberdayaan versus penyetaraan. Manajer yang sukses
mengekplorasi pendekatan dan menyeimbangkan penekanan mereka. Misalnya,
digeneral motor, terjadi konflik lama mancapai biaya perunit yang rendah
melalui ekonomi skala(perubahan skala besar) dan merespon pelanggan dengan
mengurangi waktu tiba dipasar. Di IBM, terjadi konflik antara mengembangkan
bisnis (mengembangkan pendapatan) dan meningkatkan keuntungan (menurunkan
biaya). Di Mercedes, terjadi perselisihan antar kelompok dalam perusahaan yang
ingin mendesai dan membuat mobil berkualitas (insyur) serta orang yang
berpendapat bahwa banyak orang tidak ingin membayar premi untuk mobil karena
mereka tidak ingin dan tidak menghargai inovasi tersebut(pasar). Manajer yang
sukses biasanya adalah orang yang paling dapat menyeimbangkan tuntutan yang
berkonflik tanpa kehilangan tujuan perusahaan melalui manajemen konflik yang
efektif, usaha dari sebauh masalah dapat diarahkan kepada tujuan umum yang
diharapkan akan berguna, baik bagi orang yang terlibat maupun bagi seluruh
organisasi.
Konflik peran dan ambiguitas
Berhubungan dengan konsep norma (perlaku
wajib)peranan didefinisikan sebagai posisi yang mempunyai harapan yang
berkembang dari norma yang ditetapkan. Orang yang hidup dalam masyarakat
kontemporer melakukan serangkaian peran sepanjang hidupnya. Urutan peranan
sosial adalah anak kecil, anak laki-laki ata peempuan, remaja, mahasiswa,
kekasih, pasangan hidup , orang tua, dan kakek atau nenek. Setiap peranan
mempunyai harapan yang dilakukan seperti sebuah peran dalam drama.
Selain berkembangn melalui serangkaian peran seperti
disebutkan diatas, orang dewasa dalam masyarakat modern menempati berbagai
peran pada waktu yang sama. Tidaklah umum bagi pria dewasa kelas menegah untuk
secara serempak memainkan peran suami, ayah, pencari nafkah, anak (bagi
orangtuanya), pekerja atau manajer, mahasiswa (kuliah malam), pelatih tim bisbol
little league, anggota gereja, anggota klub sosial, mitra bermain kartu ,
anggota klub poker, kelopok pegawai komonitas, dan para pemain golf pada akhir
pekan. Tentu saja perempuan mempunyai peran yang menimbulkan konflik. Meskipun
semua peranan yang dimiliki pria dan perempuan dalam ornagisasi relevan dengan
perilaku mereka , tetapi dalam studi perilaku organisasi, peran organisasi
adalah yang paling penting. Peran seperti operator peraltan digital,
pramuniaga, pemimpin tim, sales, insiyur, analisi sistem, kepala departemen,
wakil presiden, dan pemimpin direksi sering mempunyai tuntutan dan harapan yang
saling berkonflik. Terdapat bukti penelitian bahwa konflik tersebut dapat
mempunyai dampak negatif pada keberhasilan dan kinerja yang dipegaruhi perbedaan
budaya. Sebagai contoh, dalam studi kasus mengenai CEO dalam joint venture
internasional, ditemukan bahwa konflik peran lebih rendah saat mitra asing
dominan dalam usaha, tetapi menjadi lebih tinggi saat orang local menjadi
dominan. Konflik peran berhubungan dengan budya secara terbalik.
Terdapat tiga jenis konflik peran. Jenis pertama
adalah konflik antar orang dan peran. Mungkin terdapat konflik antar
kepribadian orang dan harapan peran. Misalnya, karyawan produksi dan angota
serikat ditunjuk untuk memimpin tim produksi baru. Pemimpin tim baru ini tidak
ingin terlalu mengawasi karyawan dengan dekat, dan hal tersebut bertentangan
dengan kepribadiannya yang keras, tetapi itulah yang diharakan kepala produksi.
Jenis yang kedua adalah konflik anatrperan yang dihasilkan oleh harapan yang
berlawanan mengenai bagaimana memainkan peran . apakh pemimpin tim perlu
menjadi otokrat atau demokrat dalam mengahdapi anggota tim? Akhirnya, konflik
antar peran muncul dari persyaratan yang berbeda antara dua peran atau lebih
yang harus diaminkan dalam waktu bersamaan. Peran kerja dan tidak kerja sering
menjadi konflik. Misalnya, eksekutif sukses yang berkerja pada perusahaan
komputer mengatakan bahwa dia bekerja dari pukul 7.30 pagi sampai pukul 11.30
malam. jam kerjanya yang panjang menyebabkan perceraian. Saat dia mendegar
bahwa ibunya sakit parah, dia ingat “ saya mempunyai waktu satu menit untuk
bersedih sebelum telepon mulai berdering lagi. Anda terjerumus begitu jauh
dalam perkerjaan dan anda bahkan tidak menyadari bahwa hidup anda telah
terampas sepenuhnya dari anda.”
Pemimpin tim produksi dan eksekutif yang sedang
menanjak kariernya secara jelas merepresentasikan kasus konflik peran
organisasi. Tetapi, tergantung pada individu dan situasi, orang dalam setiap
posisi dalam organisasi modern juga mengalami salah satu dari tiga jenis
konflik tersebut. Staf insinyur tidak yakin otoritas nyata mereka. Pegawai
digarda depan tidak tau apakah mereka harus merespon dorongan organisasi serikat
atau tidak. Contoh-contoh seperti itu tidak akan ada habisnya. Pertanyaannya
bukan apakah ada konflik atau ambiguitas peran—karena hal tersebut memang ada,
dan sepertinya tidak dapat dielakkan. Akan teapi, pertanyaan kuncinya adalah
bagaimana memecahkan atau mengelola konflik peran.
Komentar
Posting Komentar